Tikus “Got” Bara dan Bateng di Mata Seorang Mahasiswi IPB

Tempat tinggal kita adalah ekologi kita. “Ekologi Manusia” merujuk pada suatu ilmu (oikos = rumah/tempat tinggal ; logos = ilmu) dan mempelajari interaksi lingkungan dengan manusia sebagai perluasan dari konsep ekologi pada umumnya. Mahasiswa IPB tentu akrab dengan lingkungan disekitar kampus yang disebut dengan Babakan Raya dan Babakan Tengah. Disini saya akan menyoroti keberadaan kedua tempat tersebut karena memang dekat dengan kehidupan mahasiswa IPB. Babakan Raya atau biasa disebut dengan Bara dan Babakan Tengah yang biasa disebut dengan Bateng, merupakan ekologi mahasiswa IPB. Mengapa begitu? Ya, kedua tempat tersebut banyak berdempetan rumah-rumah kost dan juga warung-warung yang banyak dikunjungi mahasiswa.

Disini saya hanya mengulas tentang kebersihan kedua tempat tersebut dimana hampir semua mahasiswa pasti mengetahui bagaimana keadaan lingkungan dari kedua tempat tersebut, sangat “jorok”. Saya mengkategorikan “jorok” dan bukan hanya sekedar kotor. Selokan-selokan yang mampat sangat mudah ditemui sepanjang Bara dan Bateng. Tumpukan sampah menumpuk dipinggir-pinggir selokan, analisis saya: disini masih ada orang yang berbaik hati mengangkat sampah yang menyumbat selokan, ini juga dapat diartikan bahwa masih ada orang-orang yang mengartikan bahwa selokan adalah tempat sampah. Pertanyaan saya, apakah yang membuang sampah di selokan adalah warga sekitar selokan baik itu mahasiswa atau warga setempat? Ya, mungkin anda bisa menjawabnya sendiri. Selokan di daerah Bara dan Bateng juga identik dengan tikus “got”. Tikus yang berukuran seanak kucing ini kini banyak disebut sebagai spesies “mutan”. Hal ini mungkin dianggap sepele oleh kita sebagai mahasiswa yang ternyata akrab melihat tikus seukuran anak kucing ini. Hanya sedikit orang yang memikirkan bahwa ternyata keberadaan tikus yang berukuran abnormal ini mengindikasikan bahwa ekologi kita sedang tidak seimbang. Sejumlah zat kimia yang ternyata tercampur di selokan-selokan yang mampat di daerah Bara dan Bateng bisa merubah seekor tikus. Apakah ada penelitian ini oleh mahasiswa IPB? (Saya ingin tahu). Kucing dan Ular yang dalam pelajaran IPA SD menjelaskan dalam rantai makanan bahwa kedua hewan tersebut adalah predator dari tikus, namun untuk keadaan saat ini hal tersebut mungkin bisa berubah. Jelas saja, kucing dan ular hanya bisa bergidik melihat ukuran tikus yang super gede tersebut, dan enggan untuk memakan tikus “got”.

Mahasiswa IPB identik dengan penyakit Typhus yang salah satu pembawanya dari hewan pengerat ini, tikus. Apakah pernah terfikirkan tikus-tikus got ini adalah pembawanya? Yang sangat “gampang” ditemui disekitar kost-kostan anda. Secara garis besar ternyata bisa ditarik suatu kesinambungan antara kebersihan lingkungan, hewan disekitar lingkungan, dan kesehatan anda. Apabila selokan-selokan disekitar Bara dan Bateng bersih dari sampah, maka air selokan akan mengalir dengan lancar dan tidak mampat. Air selokan mengalir lancar dikaitkan dengan tidak ada sampahnya yang menghambat alirannya, namun kontruksi (kemiringan) dari selokan itu sendiri juga menentukan air bisa mengalir dengan lancar atau tidak. Tikus got yang ada di Bara dan Bateng bersarang di selokan yang mampat tadi, apabila selokan tidak mampat lagi dapat dimungkinkan jumlah tikus got dapat berkurang dan penyakit typhus yang biasa dihadapi mahasiswa dapat menurun jumlahnya.

8 thoughts on “Tikus “Got” Bara dan Bateng di Mata Seorang Mahasiswi IPB

  1. iyah,emank betul apa yang anda katakan….kita sbg mahasiswa harus kritis ttg kebersihan lingkungan khususnya bara dan bateng sbg tempat kebanyakan mahasiswa bertempat tinggal. bukan hanya anda saja yang berpikirkan begitu, sebenarnya IPB kan sudah melaksanakan pembersihan lingkungan sekitar kampus. contohnya saja yang di depan alfamart bara, selokan itu sekarang sdh dilancarkan salurannya dan ini harus berkesinambungan hingga ke masa yang akan datang, oleh karena itu kita sbg mahasiswa harus terus berjuang dan bekerjasama dengan warga sekitar agar senantiasa untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta selalu memperbanyak program-program pembersihan lingkungan terutama yang difasilitasi oleh BEM IPB sebagai organisasi mahasiswa IPB yang menjadi agen penerus bangsa Indonesia yang didukung oleh para mahasiswa lainnya (bukan BEM saja yang bergerak).

  2. Hmm iya juga ya, tp tikus gede bisa jadi bakso lho, pernah d pekanbaru ada kasus bakso tikus
    jadi hati2 aja bagi yg suka makan bakso😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s