Dampak Film Kartun yang Mengandung Unsur Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak

Tugas Akhir Mata Kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah

Dampak Film Kartun yang Mengandung Unsur Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak

Oleh:

Auliyaul Hafizhoh (I34070021)

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

2008


ABSTRAK

Pada saat ini masyarakat modern yang hidup di hampir semua negara memiliki kesamaan budaya, yaitu budaya populer. Televisi merupakan salah satu budaya populer yang menampilkan berbagai informasi secara cepat dan efektif. Salah satu tayangan yang menjadi kegemaran anak-anak yang berada pada umur awal masa kanak-kanak adalah film kartun. Film yang seharusnya menampilkan kelucuan dan hiburan ternyata sudah tercemar dengan adegan kekerasan.

Film kartun yang mengandung kekerasan tersebut dapat mudah dijumpai di beberapa tayangan televisi di Indonesia, dari pagi hari sampai malam hari. Awal masa kanak-kanak adalah masa dimana anak-anak mulai belajar norma-norma, dia belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Apa yang dilihatnya, itulah yang menjadi panutannya. Anak-anak pada usia awal masa kanak-kanak harus mendapat pengawasan lebih oleh orang tuanya. Mereka harus mendampingi apa yang sedang di tonton oleh anak-anaknya, memberitahu apakah sesuatu yang ditayang oleh televisi layak dicontoh atau tidak. Hal ini sangat penting bagi perkembangan anak di lingkungan sosial mereka.

Kata-kata kunci: Televisi, Film Kartun, Kekerasan, Anak.


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Televisi merupakan alat komunikasi massa yang banyak dipergunakan pada masa sekarang. Pada 1981 separuh dari penduduk Indonesia sudah biasa menonton televisi. Sekarang ini sekitar delapan di antara sepuluh orang Indonesia biasa menonton televisi dan khusus di daerah perkotaan, bahkan sembilan di antara sepuluh orang (Hofmann, 1999). Televisi dianggap sebagai salah satu budaya populer. Berbagai tayangan dapat kita saksikan, tayangan untuk orang dewasa hingga anak-anak, berita, hiburan, dan pendidikan dapat disaksikan Ahingga kepelosok desa.  Semakin berkembangnya jaman, semakin bertambah pula stasiun televisi dengan segmen-segmen tertentu yang menjadi pijakannya, seperti Metro TV yang cenderung menayangkan berita, SCTV dengan tayangan sinetronnya, dan Global TV yang lebih banyak menayangkan film kartun.

Film kartun banyak digemari oleh anak-anak, hingga beberapa stasiun televisi menayangkannya pada malam hari. Kekerasan secara tidak disadari telah merasuki cerita dalam film kartun. Hingga saat ini banyak film kartun yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi dan memiliki peminat yang jumlahnya sangat banyak, terutama di kalangan anak-anak. Film kartun yang mengandung kekerasan dan sering ditayangkan di televisi adalah Tom and Jerry, Naruto, Dragon Ball, Ultraman, dan lain-lain.

Awal masa kanak-kanak menjadi masa yang amat penting. “Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk wanita dan empat belas tahun untuk pria” (Hurlock, 1980). Pada kisaran umur inilah penggemar film kartun berada.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun permasalahan yang ingin disampaikan penulis, adalah:

1. Apakah yang dimaksud dengan komunikasi massa?

2. Apakah yang dimaksud dengan televisi?

3. Apakah yang dimaksud dengan film kartun yang mengandung kekerasan?

4. Apakah yang dimaksud dengan awal masa kanak-kanak?

5. Apakah yang dimaksud dengan Teori Freud mengenai kepribadian?

6. Apakah pengaruh yang ditimbulkan oleh film kartun yang mengandung kekerasan dengan perilaku pada awal masa kanak-kanak?

7. Apakah yang harus dilakukan terhadap film kartun yang mengandung kekerasan?

1.3 Tujuan Penulisan

Karya tulis ini bertujuan agar masyarakat terutama orang tua mengerti dan memahami bahwa tayangan televisi memiliki berbagai dampak, terutama film kartun yang mengandung kekerasan yang secara tidak sadar mampu merubah perilaku anak. Orang tua mampu mendampingi dan memilihkan tayangan televisi yang pantas ditonton oleh anak-anaknya. Anak-anak juga mampu menentukan mana perilaku yang ditontonnya yang pantas untuk dia tirukan atau pun tidak, dengan dampingan orang tua hal ini dapat terlaksana.

1.4 Manfaat Penulisan

Karya tulis yang berjudul “Dampak Film Kartun yang Mengandung Unsur Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak” diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan akademis yang mempelajari tentang tayangan televisi dan perilaku anak, orang tua yang sedang mendidik anak-anaknya terutama pada awal masa kanak-kanak, dan masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap tayangan televisi yang mempengaruhi perilaku anak.

BAB II

Pembahasan

2.1 Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri ( Gerbner, 1967).

Maletzke (1963) menghimpun banyak difinisi tentang komunikasi massa, diantaranya adalah:

1. Bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar.

2. Dibedakan dari jenis komunikasi yang lainnya dengan suatu  kenyataan bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok, dan bukan hanya satu atau beberapa  individu atau sebagian khusus populasi.

Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronis sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat, 2005).

2.2 Televisi

Televisi adalah media yang paling populer dan tersebar (di Amerika dan mungkin juga di Indonesia). Masyarakat yang tidak menikmati televisi telah makin berkurang dan mungkin akan segera lenyap. “Di Amerika Serikat pesawat televisi rata-rata disetel sekitar 7 jam sehari. Ini berarti lebih dari 2500 jam pertahun, atau 106 hari per tahun. Dalam seminggu ini berarti 47 jam, lebih dari jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja atau tidur” (Devito, 1997). Televisi di Indonesia mulai beroperasi pada 1962 dan 1992 merupakan titik awal perubahan yang meluas. Sejak permulaan tahun 1990-an televisi swasta menjadi sangat populer di seluruh tanah air (Hoffman, 1999).

Televisi telah menjadi medium yang sangat banyak menciptakan budaya populer. Televisi adalah medium iklan yang banyak digunakan oleh para produsen karena jangkauannya yang luas dan kemampuan audio dan visualnya dalam menyampaikan iklan. Televisi adalah medium untuk menyampaikan banyak hal kepada masyarakat: sosial, politik, hiburan, olahraga, beragam berita, dan iklan komersial (Sumarwan, 2004).

2.3. Film Kartun yang Mengandung Kekerasan

Tayangan televisi sebagai hiburan yang sering ditonton adalah film. Walaupun kita sering menganggap film sebagai sinonim dengan hiburan, banyak film yang menjalankan fungsi yang lain1. pengertian kartun seperti yang sekarang kita pegang dicanangkan pada 1843 di Inggris. Ketika itu ajang kompetisi dan pameran kartun besar-besaran digelar di masa kekuasaan Ratu Victoria dan Pangeran Albert. Objeknya, dinding House of Parliament. Kata “kartun” sebenarnya berasal dari bahasa Italia, cartone yang berarti kertas.

Menurut Putra (2008) film kartun adalah film yang menampilkan gambar bergerak di dalam media televisi. Film kartun pada saat ini sudah mengalami pergeseran kepada arah kekerasan yang kurang mendidik. Cukup banyak film kartun saat ini yang mengedepankan kekerasan dan pertumpahan darah. Namun, ada juga yang mendidik dan bagus, seperti Pokemon Digimon, dan Dragon Ball yang cukup baik dinikmati anak-anak.

2.4 Awal Masa Kanak-Kanak

Menurut Hurlock (1980) banyak orang beranggapan bahwa masa kanak-kanak adalah masa terpanjang dalam hidup. “Masa kanak-kanak dimulai setelah

1 “Film seperti The Deer Hunter dan Burn on The Fourth of July menunjukkan kepada kita betapa         kejamnya perang itu. Norma Rae mwnunjukkan kepada kita bagaimana pekerja kasar seringkali   diperah tenaganya. Film Rocky berusaha mendemonstrasikan bahwa impian Amerika dapat  menjadi kenyataan” (Devito, 1997).

melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk wanita dan empat belas tahun untuk pria

Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua yaitu awal masa kanak-kanak dan akhir masa kanak-kanak. Periode awal berlangsung dari umur dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian awal masa kanak-kanak dimulai sebagai penutup masa bayi-usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati, diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir di sekitar usia masuk sekolah dasar.

Sebagian besar orang tua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah untuk membedakannya dari saat di mana anak dianggap cukup tua, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal. Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk  menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak.

Sebutan yang banyak digunakan para ahli psikolog adalah usia kelompok, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka massuk kelas satu. Usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan bahwa anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya. Usia bertanya, salah satu cara yang umum dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan bertanya. Periode ini juga dikenal sebagai usia meniru.

2.5 Teori Freud Mengenai Kepribadian

Teori adalah serangkaian hipotesa atau proposisi yang salaing berhungan tentang suatu gejala (fenomena) atau sejumlah gejala. Sigmon Freud adalah tokoh pertama dan utama dari aliran psikoanalisis, menurut dia ada tiga komponen dalam kepribadian, yaitu Id, Ego, dan Super-Ego (Sarwono, 1999).

Id adalah aspek biologis, Ego adalah aspek psikologis, dan Super-Ego adalah aspek sosiologis. Freud umumnya dipandang sebagai ahli yang pertama-tama  mengutamakan aspek perkembangan (genetis) daripada kepribadian, dan terutama yang menekankan peranan yang menentukan daripada tahun-tahun permulaan masa kanak-kanak dalam meletakkan dasar-dasar struktur kepribadian. (Suryabrata, 2008).

Pembentukan nilai-nilai dari Super-Ego terjadi pada usia 3-6 tahu, yaitu ketika anak sedang dalam tahap phalic dalam perkembangan psiko seksualnya. Anak akan menuruti perintah-perintah dan meniru perbuatan orang tuanya (Sarwono, 1999). Super-Ego dapat pula dianggap sebagai asspek moral kepribadian. Fungsi yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat (Suryabrata, 2008).

2.6 Pengaruh yang Ditimbulkan oleh Film Kartun yang Mengandung                                                                                 Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak

Pada awal masa kanak-kanak sering disebut sebagai tahap mainan, karena dalam periode ini hampir semua permainan menggunakan mainan. Menonton televisi adalah salah satu kegiatan bermain yang populer pada masa kanak-kanak. Anak-anak jarang melihat bioskop, tetapi ia senang menonton film kartun, film tentang binatang, dan film tentang anggota-anggota keluarga. Anak-anak juga senang mendengarkan radio, tetapi lebih senang melihat televisi. Ia senang melihat acara untuk anak-anak yang lebih besar dan juga acara untuk anak-anak prasekolah. Ia mengalami situasi rumah yang aman sehingga biasanya tidak merasa takut kalau ada unsur-unsur yang menakutkan dalam acara televisi tersebut (Hurlock, 1980).

Film kartun sering ditayangkan pada pagi, sore, dan malam hari. Pada hari libur, film kartun sering ditayangkan dari pagi hingga malam hari. Tayangan full time ini cukup mengkhawatirkan bagi beberapa pihak, terutama orang tua. Anak-anak cenderung menonton televisi tanpa berhenti dan jam belajarnya terganggu.

Apalagi film kartun yang sering diputar di beberapa stasiun televisi mengandung unsur kekerasan. Film kartun tersebut menayangkan adegan pertengkaran dan pemukulan yang tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak. Adegan berdarah sering muncul dan ini menggeser image dari film kartun yang seharusnya menghibur, terutama untuk anak-anak. Film kartun yang mengandung kekerasan ternyata juga diputar pada malam hari.

Banyak kejadian kriminal yang dilakukan oleh anak-anak, sebagian dari mereka melakukan hal tersebut karena menonton tayangan kriminal di televisi. Film yang tidak seharusnya mereka lihat itu tertanam dalam memori dan membangkitkan rasa ingin tahu. Sehingga, timbul keinginan mencoba dalam pergaulan sehari-hari.

Dokter spesialis kejiwaan RS Theria, Asianto mengatakan, tontonan seperti film kekerasan dan film porno sangat mempengaruhi perkembangan psikologi anak. “Apa yang mereka lihat dari tontonan itu terekam dan sewaktu-waktu mereka praktikkan seperti yang mereka lihat dalam adegan film itu. Dan ini sangat berbahaya bagi si anak itu sendiri karena bisa terjerumus dalam pergaulan yang salah,” terangnya kepada Jambi Independent (20/11/2008).

Tabel 3. 1. Efek Komunikasi Massa

Sasaran Media Fisik Pesan
Kognitif Afektif Bahavioral Kognitif Afektif Behavioral
Individual 1 2 3 4 5 6
Interpersonal 7 8 9 10 11 12
Sistem 13 14 15 16 17 18

SUMBER: Psikologi Komunikasi Karangan Jalaludin Rakhmat Tahun2005

Dari tabel tersebut didapatkan bahwa behavioral mendapat efek yang cukup besar terhadap komunikasi massa. Dari media fisik ataupun pesan besar pengaruhnya terhadap behavioral indivu, interpersonal, dan sistem.

Tori Kepribadian Freud memiliki hubungan yang searah dengan perilaku awal masa kanak-kanak. Freud menyatakan bahwa Super-Ego (aspek psikologis) melalui proses yang dinamakan Oedipoes complex yang terjadi pada usia 3-6 tahun yang pada masa ini dinamakan Awal Masa Kanak-Kanak. Di mana masa ini anak cenderung memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi dan meniru.Menurut Freud pada masa ini pula, anak-anak menuruti perintah-perintah dan meniru perbuatan orang tuanya. Aspek moral kepribadian mulai terbentuk. Selain itu menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang (anak) cenderung meniru perilaku yang diamatinya, stimuli menjadi teladan untuk perilakunya (Rakhmat, 2005). Stimuli dalam hal ini dapat termasuk tayangan televisi yang sedang ditonton.

. Begitu besarnya peran dan daya pikat yang dibuatnya membuat pengaruh televisi sering amat dominan dalam kehidupan anak. Bahkan akibat lebih ekstrim, televisi dianggap anak-anak sebagai panutan, dibandingkan dengan orang tua. Terdapat dampak negatif yang begitu banyak apabila membiarkan anak yang berusia awal masa kanak-kanak menonton film kartun yang mengandung kekerasan tanpa ada dampingan dari orang tua.

2.7 Tindakan Terhadap Film Kartun yang Mengandung Kekerasan

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa datang, sekaligus untuk mengembalikan peran orang tua sebagai panutan dalam keluarga perlu adanya semacam pedoman. Pada dasarnya amat diharapkan agar kepada anak-anak dikembangkan sikap aktif dan kritis dalam menonton tayangan televisi. Gambar 5.1. Penemuan Layers et. al. Menunjukkan kenaikan agresi setelah menonton film agresif.

(Sumber: Baron dan Byrne dalam Rakhmat, 2005)

Terlalu sering menyaksikan kekerasan, menimbulkan perilaku agresif,  anak menjadi kurang kooperatif (tidak memiliki sikap kerja sama), kurang sensitif kepada yang lain. Keyakinan kepada anak-anak, segala persoalan hanya dapat “diselesaikan”    lewat   kekerasan.
Anak-anak menyaksikan televisi tanpa kontrol dapat dikaitkan dengan meningkatnya kekerasan, perilaku agresif, dan hasil akademik atau belajar yang jelek. Selanjutnya, anak-anak di bawah usia empat tahun menghadapi kesulitan dalam membedakan antara fantasi dan kenyataan. Banyak anak-anak dirusak kepekaannya dan mudah bertindak kasar.

Menyaksikan televisi sebelum sekolah, dapat menurunkan daya tangkap anak-anak terhadap pelajaran di sekolah. Berita-berita yang disuguhkan televisi, seringkali hanya merupakan katalog tindakan kekerasan yang dapat menyebabkan ketakutan dan kebingungan di antara anak-anak

Anak akan sulit mengekspresikan diri. Apabila sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di depan televisi, dapat dipastikan anak-anak tidak akan mendengarkan bila orang tua berbicara kepadanya, anak-anak tidak mau berbicara dengan orang tua dan anak- anak sulit mengekspresikan diri. Mereka sering meniru kekerasan “pahlawan             televisi” dan    perilakunya.

Terdapat beberapa undang-undang yang mengatur penyiaran yaitu pada P3/SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang dikeluarkan oleh KPI. Beberapa pasal yang berhubungan dengan siaran yang bersifat kekerasan yang berdampak pada anak adalah pasal 32 ayat 1 dan pasal 35. Pasal 32 ayat 1 berisikan tentang program yang mengndung muatan kekerasan secara dominan, atau mengandung kekerasan eksplisit dan vulgar, hanya disiarkaan pada jam tayang di mana anak-nak pada umumnya diperkirakan sudah tidak menonton televisi, yakni pukul 22.00-03.00. Sedangkan isi pasal 35 adalah dalam program anak-anak, kekerasan tidak boleh tampil secara berlebihan dan tidak boleh tercipta kesan bahwa kekerasan adalah lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelakunya (Komisi Penyiaran Indonesia dalam Mufid, 2005).

Adanya undang-undang dari KPI tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap penayangan film kartun yang mengandung kekerasan. Tayangan tersebut masih bebas ditayangkan. Hal ini memeperkuat teori freud bahwa hanya orang tua yang sangat berperan untuk membentuk dan mengendalikan moral anaknya dengan cara mendampinginya pada saat menonton tayangan tersebut.

Tabel 5.1 Jumlah dan Presentase Siswa Berdasarkan Peranan Orang Tua dan Saat Menonton menurut Nama Sekolah

Nama Sekolah Saat Menonton Peranan Orang Tua Total Siswa Nilai Chi-Square
Tak Ada Bimbingan Ada Bimbingan Longgar Ada Bimbingan Ketat
SLTPN 175 Siang 2

(66,7)

17

(58,6)

3

(42,9)

22

(56,4)

0,709
Sore 1

(33,3)

12

(41,4)

4

(57,1)

17

(43,6)

Total 3

(100,0)

29

(100,0)

7

(100,0)

39

(100,0)

SMPN 1 Dramaga Pagi - 1

(2,7)

1

(20,0)

2

(4,4)

3,938
Siang 2

(66,7)

21

(56,8)

2

(40,0)

25

(55,6)

Sore 1

(33,3)

15

(40,5)

2

(40,0)

18

(40,0)

Total 3

(100,0)

37

(100,0)

5

(100,0)

45

(100,0)

Keterangan: Angka dalam kurung menunjukkan presentase

SUMBER: Skripsi Ari Suharto Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, dengan Judul Hubungan Pola Menonton Berita Kriminal di Televisi denga Perilaku Remaja (Kasus SLTPN 175 Jakarta dan SMPN 1 Dramaga Bogor) Tahun 2006

Banyak Orang Tua yang tidak melakukan bimbingan kepada anak-ankanya dalam menonton televisi. Hal ini terjadi pada sebagian besar responden di SLTPN 175 Jakarta dan SMPN 1 Dramaga. Padahal perhatian dan bimbingan Orang Tua pada tayangan yang ditonton oleh anak sangatlah penting.

BAB III

Penutup

6.1 Kesimpulan

Awal masa kanak-kanak merupakan awal pembentukan perilaku dimana orang tua harus memiliki perhatian ekstra kepada anak-anaknya. Pada tahap ini rasa keingin tahuan anak tenatang sesuatu cukup besar dan anak-anak cenderung meniru apa yang sedang disaksikan olehnya.

Film kartun merupakan tayangan favorit bagi sebagian besar anak-anak pada usia awal masa kanak-kanak. Maraknya film kartun yang mengandung unsur kekerasan menimbulkan beberapa damapak bagi perilaku anak. Anak-anak cenderung bersikat agresif dan banyak melakukan kekerasan.

Peran orang tua dan guru sangat penting membantu anak untuk mengapresiasi tayangan-tayangan televisi. Peran orang tua sangat penting, karena pada awal masa kanak-kanak mereka cenderung menuruti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Kita tak bisa berharap banyak kepada pengelola televisi. Mereka adalah kapitalis sejati yang lebih berorientasi kepada keuntungan alias profit. Kendati begitu, kita juga tak bisa menafikan usaha-usaha yang telah dilakukan pengelola televisi akhir-akhir ini seperti menyensor tayangan dengan aturan yang sangat ketat, memberikan ikon panduan menonton hingga membuat program anak kendati secara finansial tak menarik pemasang iklan

6.2 Saran

Dampingan orang tua sewaktu anak sedang menonton televisi sangat diperlukan, seiring banyaknya tayangan seperti film kartun yang mengandung kekerasan. Orang tua dapat mengingatkan kepada anak-anaknya apabila terdapat adegan yang tidak boleh ditiru, jadi anak-anaka juga dapat belajar bagaimana membedakan perilaku yang baik dan jelek. Anak-anak tidak asal menirukan apa yang sudah ditontonnya. Orang tua dapat mengatur jadwal menonton televisi anak-anakanya sehingga dapat menfilter tayangan yang tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak. Stasiun televisi juga tidak asal menayangkan film yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak. Mereka harus menayangkan film-film yang pantas ditonton oleh anak-anak pada jam yang tepat.

Daftar Pustaka


Devito, A. Joseph. 1997. Komunikasi antar Manusia Kuliah Dasar Edisi Kelima.   Jakarta: Professional Books.

Gerbner, G. 1967. Mass Media and Human Communication Theory, Human Communication Theory, F. E. X. Dance, editor, New York: Holt, Rinehart, & Winston

Hofman, Ruedi. 1999. Dasar-Dasar Apresiasi Program Televisi. Jakarta:  Grasindo.

Hurlock, B. Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Mufid, Muhamad. 2005. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Jakarta: Prenada  Media.

Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori  Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.

Suharto, Ari. 2006. Hubungan Pola Menonton Berita Kriminal di Televisi   dengan  Perilaku Remaja (Kasus SLTPN 175 Jakarta dan SMPN 1 Dramaga Bogor). Skripsi. Bogor: Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB.

Sumarwan, Ujang. 2004. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Bogor. Ghalia Indonesia.

Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

2 thoughts on “Dampak Film Kartun yang Mengandung Unsur Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak

  1. I really had to share this specific article, “Dampak Film Kartun yang
    Mengandung Unsur Kekerasan Terhadap Perilaku Awal Masa Kanak-Kanak |
    Lia27’s Weblog” along with my own close friends on facebook or twitter. Ijust simply needed to distributed your wonderful posting! Regards, Shelby

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s